Menjaga Asa di Tepi Hutan Mangrove: Upaya Asuransi Astra Menyalakan Lilin Literasi Finansial bagi UMKM Batam
Portal Automotif, BATAM – Di ujung pulau Batam, tepatnya di Kampung Berseri Astra (KBA) Tua Bakau Serip, hening pagi itu perlahan berubah menjadi ruang harap.
Bukan karena hiruk pikuk kapal atau geliat wisatawan, melainkan oleh sekelompok pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang duduk bersila, menanti ilmu yang bisa mengubah cara pandang mereka tentang masa depan, tentang finansial, perlindungan, dan mimpi yang lebih berani.
Asuransi Astra hadir bukan sekadar sebagai lembaga yang menjual perlindungan jiwa atau kendaraan. Di tempat ini, mereka tampil sebagai penghubung: antara ilmu dan penghidupan, antara risiko dan ketangguhan.

Melalui program literasi dan inklusi keuangan yang diberikan kepada UMKM binaan KBA Tua Bakau Serip, semangat untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat pun dinyalakan.
“UMKM bukan sekadar penggerak ekonomi. Mereka adalah denyut nadi masyarakat,” ujar Djoko Nugroho Anindito, VP Governance, Risk Management, and Compliance Asuransi Astra, dengan mata yang menyiratkan kebanggaan. “Kami ingin mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh dengan keyakinan.”

Lebih dari Sekadar Angka
Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, UMKM menyumbang lebih dari 60% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja. Namun ironisnya, 90% dari mereka belum tersentuh pembiayaan formal, dan lebih dari 70% masih awam soal manajemen keuangan.
Asuransi Astra tak ingin sekadar menyentuh permukaan masalah itu. Mereka masuk lebih dalam, dengan materi praktis yang bisa langsung dipahami, dicerna, dan dipraktikkan.
Dalam sesi pagi itu, Dr. Suyono Saputra dari Universitas Internasional Batam membuka pelatihan dengan membahas hal mendasar: bagaimana menyusun strategi keuangan usaha, merancang aliran modal, dan menghindari jebakan utang konsumtif yang sering menjerat pelaku UMKM.

Lalu giliran Christian Suyoto, Deputy VP MV Marketing, New Account Development Asuransi Astra, menyampaikan betapa pentingnya mengelola risiko. Ia tak berbicara dengan bahasa teknis asuransi yang rumit, melainkan dengan cerita-cerita sederhana, tentang pedagang kaki lima yang bisa bangkit karena punya perlindungan saat kecelakaan, tentang ibu rumah tangga yang bisa melanjutkan usaha kateringnya berkat manfaat polis mikro.
“Menabung itu baik, tapi tidak cukup. Kita juga perlu memagari masa depan dari hal-hal yang tidak terduga,” tuturnya.
Dari Ilmu Menuju Aksi
Simbol komitmen itu akhirnya diwujudkan dalam bentuk nyata: para peserta menerima polis Garda Me Micro, produk asuransi kecelakaan diri dari Asuransi Astra. Meski nilainya tak sebanding dengan polis besar di kota, namun di mata warga, itu adalah bentuk kepercayaan yang sangat berarti. Sebuah pengakuan bahwa usaha kecil mereka layak untuk dilindungi.
Di tengah senyum dan tanya para pelaku usaha yang sehari-hari menjual keripik, anyaman, atau jamu tradisional, terpancar semangat baru. Tak semua langsung paham betul apa itu diversifikasi aset atau proteksi finansial, tapi satu hal yang pasti: mereka merasa dilibatkan, dimanusiakan.
“Ini bukan soal asuransi saja. Ini tentang rasa percaya diri,” ujar seorang ibu peserta pelatihan sambil menggenggam polisnya erat-erat. “Kalau usaha saya nanti besar, saya tahu harus jaga dari sekarang.”

Tiga Dekade, Satu Komitmen
Tak berhenti di sana, Asuransi Astra pun mengajak media turut terlibat. Melalui lomba jurnalistik bertajuk “Perjalanan Tiga Dekade Garda Oto: Dari Komitmen dan Inovasi Menjadi Kepercayaan Bangsa yang Penuh Arti,” perusahaan ini ingin mengajak pewarta di seluruh Indonesia ikut menyuarakan pentingnya literasi dan edukasi keuangan melalui tulisan dan visual yang menginspirasi.
Karena pada akhirnya, cerita-cerita seperti yang terjadi di Tua Bakau Serip bukan hanya soal angka dan produk. Tapi tentang perjalanan, tantangan, dan tekad untuk terus melangkah dengan penuh harapan, satu usaha kecil, satu polis mikro, dan satu langkah menuju masa depan yang lebih cerah. (RXC/ALN)
