Ketangguhan Yamaha GEAR ULTIMA di Tangan Wanita Penjelajah Sulawesi
Portal Automotif, JAKARTA — Di tengah dominasi rider pria dalam perjalanan jarak jauh, nama Nikhen Mokoginta atau yang dikenal sebagai @nikhenmoko justru hadir dengan cerita berbeda. Traveller asal Sulawesi ini menjadikan sepeda motor bukan sekadar alat transportasi, tetapi medium eksplorasi dan simbol kemandirian.
Kali ini, pilihannya jatuh pada Yamaha GEAR ULTIMA skutik yang ia sebut praktis, irit, dan “tanpa ribet” untuk menjelajah ratusan kilometer.

Performa & Efisiensi: 566 Km, Minim Isi Bensin
Uji sesungguhnya terjadi saat Nikhen menempuh rute Gorontalo – Manado, lalu menyeberang ke Pulau Sangihe dengan total perjalanan sekitar 566 km. Untuk hampir 400 km rute Gorontalo–Manado, pengisian bahan bakar hanya dilakukan dua kali bahkan setibanya di Manado indikator bensin masih menyisakan setengah tangki.
Efisiensi ini tak lepas dari dukungan teknologi Blue Core Hybrid yang memang dirancang untuk menekan konsumsi bahan bakar tanpa mengorbankan performa. Dalam skenario touring nyata bukan sekadar klaim pabrikan, hasilnya terasa relevan. Apalagi saat eksplorasi dua hari di Sangihe, satu kali pengisian bahan bakar disebut cukup menunjang mobilitas penuh.
“Yang paling berkesan buat saya adalah bensinnya yang irit. Saat teman-teman bolak-balik isi bensin, saya masih santai,” ujar Nikhen.
Dari sisi review, klaim ini menunjukkan positioning GEAR ULTIMA sebagai skutik komuter yang naik kelas menjadi motor touring ringan tanpa modifikasi tambahan.

Kenyamanan: Stabil Tanpa Modifikasi
Poin penting lain yang disorot adalah stabilitas dan kenyamanan. Rangka kokoh, karakter mesin halus, serta jok lebar menjadi kombinasi utama yang menopang perjalanan jarak jauh.
Ruang kaki yang lega dan dek depan luas memberikan fleksibilitas posisi berkendara faktor krusial saat menempuh ratusan kilometer. Menariknya, Nikhen menegaskan motor digunakan dalam kondisi standar pabrik.
“Semua masih asli seperti saat beli dari dealer. Tidak ada tambahan atau pengurangan apa pun,” jelasnya.
Artinya, GEAR ULTIMA tidak menuntut upgrade khusus untuk perjalanan panjang—sebuah nilai plus bagi pengguna yang ingin praktis.
Fungsionalitas: Bagasi 18,6 Liter Jadi Andalan
Salah satu daya tarik yang terasa sangat kontekstual untuk traveller adalah kapasitas bagasi 18,6 liter. Dalam praktiknya, ruang ini bukan hanya untuk jas hujan atau toolkit, tetapi juga oleh-oleh dadakan hingga barang tak terduga selama perjalanan.
Nikhen bahkan menyebutnya sebagai “escape room” untuk barang-barang kejutan di jalan. Ditambah fitur soket pengisian daya, kebutuhan perangkat digital seperti ponsel atau action cam pun tetap terjaga selama perjalanan.
Untuk skutik di kelasnya, kombinasi bagasi luas dan power socket menjadi paket yang menyasar gaya hidup aktif dan mobile.
Reputasi Touring: Bukan Kasus Tunggal
Pengalaman Nikhen bukan satu-satunya cerita jarak jauh.

Sebelumnya, perjalanan Yogyakarta – Mandalika – Yogyakarta sejauh lebih dari 2.000 km juga dilakukan pengguna lain, memperkuat citra GEAR ULTIMA sebagai skutik serbaguna yang mampu keluar dari zona “motor harian”.
Manager Public Relations, YRA & Community PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing, Rifki Maulana, menyebut GEAR ULTIMA dirancang sebagai solusi mobilitas tanpa kompromi, baik untuk aktivitas harian maupun perjalanan ratusan hingga ribuan kilometer.
Dari pengalaman nyata di lapangan, Yamaha GEAR ULTIMA menunjukkan tiga karakter utama:
– Efisien – Konsumsi bahan bakar impresif untuk rute lintas kota dan pulau
– Nyaman – Stabil, jok lebar, minim pegal untuk jarak jauh
– Praktis – Bagasi luas dan fitur fungsional menunjang kebutuhan touring ringan
Bagi rider yang ingin skutik harian dengan kemampuan lebih dari sekadar komuter, GEAR ULTIMA tampak mencoba menjembatani dua dunia: mobilitas perkotaan dan eksplorasi jarak jauh.
Dan lewat perjalanan seorang wanita penjelajah Sulawesi, klaim itu mendapat panggung pembuktiannya.
