Ironi di Balik Kejayaan Chery: Sukses Menjual Ribuan Unit, Tapi Mampukah Bertahan?
Portal Automotif, JAKARTA – PT Chery Sales Indonesia kembali mencetak angka penjualan mengesankan dalam dua pameran otomotif bergengsi, Indonesia International Motor Show (IIMS) 2025 dan BCA Expoversary 2025.
Dengan total 1.490 Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) di IIMS dan 310 SPK di BCA Expoversary, Chery tampaknya semakin mengukuhkan eksistensinya di pasar otomotif Indonesia.
Salah satu bintang utama adalah Chery TIGGO Cross, SUV crossover yang diklaim sebagai game changer di segmennya.
Model ini berhasil mengamankan 508 SPK di IIMS dan 123 SPK di BCA Expoversary, membuktikan bahwa konsumen tertarik pada desain futuristik, fitur premium, dan harga yang kompetitif. Bahkan, TIGGO Cross dinobatkan sebagai “Most Affordable Crossover” oleh penyelenggara IIMS 2025.

Namun, di balik angka-angka manis tersebut, muncul pertanyaan klasik yang menghantui merek-merek otomotif asal Tiongkok: mampukah mereka bertahan lama di Indonesia?
Sejarah mencatat, banyak merek Tiongkok yang masuk ke Indonesia dengan gebrakan besar, mencetak angka penjualan tinggi, namun akhirnya redup seiring berjalannya waktu.
Kejayaan di pameran otomotif memang menarik, tetapi apakah ini cukup untuk membangun kepercayaan jangka panjang?
Merek Chery sendiri bukanlah nama baru di Tanah Air. Di awal 2000-an, Chery sempat masuk pasar Indonesia dengan model seperti Chery QQ.
Namun, masalah purnajual dan kepercayaan konsumen membuat mereka hengkang. Kini, dengan strategi baru, mereka kembali dengan jaminan seperti garansi mesin 10 tahun atau 1.000.000 km, Buy Back Guarantee 70%, serta layanan purnajual yang lebih baik.
Lalu, apakah konsumen Indonesia benar-benar akan mempercayai Chery kali ini? Ataukah ini hanya akan menjadi episode ulangan dari merek-merek otomotif Tiongkok sebelumnya yang datang dengan gebrakan besar, namun perlahan tenggelam oleh dominasi merek Jepang dan Korea?
Hanya waktu yang bisa menjawab. Untuk saat ini, Chery bisa berbangga dengan angka pemesanannya—meskipun tantangan terbesar mereka bukanlah menjual mobil di pameran, melainkan mempertahankan kepuasan konsumen dalam jangka panjang. (AGS/ALN)
